Senin, 11 September 2017

PELATIHAN TEKNIS BANK SAMPAH DAN INTERPERSONAL SKILL PENGURUS BANK SAMPAH SEKTOR

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Karena termasuk dalam material yang tidak diinginkan, masyarakat sering kali tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan. Padahal dampaknya sangat besar sekali bagi keberlangsungan hidup masyarakat di masa kini dan masa mendatang.


Diantara dampak dari sampah yang menumpuk adalah : ingkungan menjadi kumuh, timbul bau yang tak sedap, mengganggu pemandangan, serta menghambat saluran air. Sampah yang termasuk dalam golongan sampah non-organik dampaknya lebih buruk lagi, sampah tersebut jika tertimbun didalam tanah, sukar diurai dan menjadi bahan pencemaran tanah. Sampah non organik yang dibakar juga dapat mencemari udara.

Berkaitan dengan sampah dan permasalahannya, Pemerintah Desa Pucangro Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan mengadakan Pelatihan Teknis Sistem Bank Sampah yang bisa menjadi alternatif jitu mengatasi permasalahan sampah. Pelatihan ini diperuntukkan untuk para kader Bank Sampah dan mengulas serta membahas lebih mendalam tentang Sistem Bank Sampah  serta mendiskusikan dampak yang ditimbulkan oleh banyaknya sampah terhadap lingkungan.


Selain itu, pada pelatihan ini juga dibahas Sistem di dalam Bank Sampah, dan Bagaimana cara memilah sampah serta Cara mengelola sampah. Pelatihan ini diikuti oleh setiap kader Bank Sampah disemua RT yang ada di Desa Pucangro dan telah dilaksanakan pada tanggal 9-10 September 2017.

Selain berdiskusi, peserta juga dibekali skill dalam kepengurusan Bank Sampah Sektor yang telah dibentuk di Desa Pucangro. Tim pelatih dari Surabaya yang bernama TIM LOHJINAWE UNILEVER SURABAYA turut hadir dalam pelatihan kali ini.

Seperti kegiatan pada umumnya, Pelatihan Teknis ini dibuka dengan beberapa sambutan dan sambutan yang pertama disampaikan oleh Kepala Desa Pucangro Bapak Zuli Kasmawanto, S.Ip., M.Ip dan dilanjut dengan sambutan dari ketua Tim Lohjinawe Unilever Surabaya Ibu Yasmin.



Setelah Sambutan, acara selanjutnya yaitu pembentukan kelompok yang dipandu oleh Tim Pelatih. Peserta pelatihan dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan pertanyaan yang sama seputar sampah beserta Sistem didalamnya. Para peserta ini kemudian berdiskusi di kelompoknya masing masing dan harus memberi tanggapan sesuai dengan topik. Masing-masing kelompok kemudian menarik kesimpulan dari setiap jawaban anggotanya dan harus dipresentasikan.



Sebelum presentasi, masing-masing kelompok membuat yel-yel yang harus ditunjukkan di depan kelompok lainnya.


Kegiatan dilanjut dengan pendalaman materi-materi tentang sistem serta skill kepengurusan Bank Sampah.


Pelatihan Teknis di hari pertama diakhiri dengan sebuah permainan yang menguji kekompakan anggota dimasing-masing kelompok. Permainan tersebut dilakukan dengan cara menyusun batang korek api setinggi-tingginya diatas botol. Permainan ini memang tampak mudah, tapi ternyata butuh ketelatenan, kekompakan dan strategi. Pada permainan ini ternyata banyak yang gagal dan tidak berhasil. Namun pada akhirnya ada juga yang berhasil menyelesaikan.



Dihari kedua, Pelatihan berlangsung di Lapangan Desa Pucangro. Kegiatannya berisi permainan kekompakan kelompok. Dimulai pada pukul 07:30 di Balai Desa Pucangro para peserta berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing dengan membawa balon yang diikat dipunggung mereka dan berjalan ke Lapangan Desa Pucangro.



Sesampainya di Lapangan, permainan dimulai. Permainan pertama yaitu memecahkan balon menggunakan punggung.




Dilanjut dengan permainan Pucangro berkata. Mekanismenya adalah Apabila Tim Pelatih berucap satu kata disertai kalimat "Pucangro Berkata" maka peserta harus melaksanakan apa yang telah diucapkan oleh Tim Pelatih, dan begitu seterusnya.


Permainan ketiga bernama estafet bola pimpong. Pada permainan ini peserta berbaris dengan membawa belahan paralon dan bola pompong digulirkan diatas belahan paragon tersebut. Peserta harus berpindah posisi untuk menyambung belahan paralon agar bola pimpong dapat masuk kedalam gelas.



Permainan keempat adalah tebak kata, peserta berbaris melingkar dengan 1 orang yang membawa kata kunci dari permainan tersebut. Kata kunci tersebut harus dibisikkan kepada teman satu kelompoknya dan yang paling terakhir mendapat bisikkan harus mengucapkan dengan keras kata kunci yang telah dibisikkan oleh orang sebelumnya, tentunya pengucapannya harus sama persis dengan kata yang dibisikkan oleh orang pertama.


Dilanjut permainan yang kelima yaitu estafet sarung atau sarung ular. Dimana semua anggota berbaris memanjang dan bergandengan. Dibarisan paling ujung peserta dikalungi sarung dan harus bisa meloloskan sarung tersebut dari badannya yang kemudian dikalungkan lagi keteman disebelahnya, dan begitu seterusnya hingga sarung tersebut dapat terlepas dipeserta yang berbaris diujung terakhir.


Masih ada lagi permainan yang keenam yaitu estafet air. sistem permainannya sama dengan estafet sarung yaitu memindah-mindahkan. Hanya saja estafet ini, yang dipindahkan ialah air. Yang harus dipindah dari 1 wadah kewadah lainnya melalui timba yang ada diatas kepala peserta. Dan yang diposisi terakhir harus menuang air diatas kepalanya kedalam bak besar. siapa yang mampu menuang lebih banyak air, kelompok itulah yang menjadi pemenang.




Dan permainan yang terakhir atau yang ketujuh yaitu angin berhempas. Misal, jika Tim Pelatih berkata "Angin Berhempas Kepada Orang Yang Berkerudung Kuning"  maka yang merasa berkerudung kuning harus berpindah tempat, dan begitu seterusnya.



Setelah ketujuh permainan tersebut dilaksanakan, maka kegiatan selanjutnya yaitu evaluasi materi yang telah diperoleh selama pelatihan berlangsung serta penutupan.


Seperti biasa, kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama sebagai dokumentasi dan juga kenangan.


Dengan berlangsungnya Pelatihan ini diharapkan para peserta yang turut berpartisipasi mampu menerapkan apa yang telah diperoleh selama masa pelatihan di Lingkungannya masing-masing. Agar terwujud Lingkungan desa yang Asri, Indah, nan Berseri. Terbebas dari Sampah yang mampu mengganggu keberlangsungan hidup makhluk didalam bumi.